| Mengapa masih terjadi perbedaan kesimpulan dan hasil hisab? |
|
|
|
|
Perhitungan dengan ilmu astronomi mutakhir memang sangat akurat sehingga kekeliruan yang mungkin terjadi dalam memutuskan awal suatu bulan kamariah sangat kecil. Namun, seperti telah dikemukakan, dalam melakukan hisab, yang digunakan bukan hanya ilmu astronomi modern, melainkan juga petunjuk dari kitab kuning, yang beberapa di antaranya sudah kadaluwarsa karena berumur ratusan tahun. Beberapa cara hisab bahkan masih menggunakan asumsi bahwa matahari mengelilingi bumi (geosentrisme), padahal yang benar adalah helio-sentrisme. Jelas, hasil perhitungan berdasarkan asumsi yang secara ilmiah tidak benar ini akan menyimpang cukup jauh dari hasil perhitungan astronomi mutakhir. Perhitungan astronomi modern ini digunakan bukan saja untuk memperkirakan pergerakan benda-benda langit seperti bulan, matahari, planet-planet, dan komet, melainkan juga untuk menghitung peluncuran roket ke bulan dan planet-planet tata surya yang jauh dari bumi. Sebagian hisab menggunakan data yang berupa "kebiasaan" ('urfi). Jika tahun syamsiyah memiliki panjang rata-rata jumlah hari yang tidak bulat (365 1/4 hari), maka tahun kamariah juga mempunyai pecahan 11/30 hari (keseluruhan rata-rata 354 11/30 hari). Tentu tidak bisa jika setiap tahun jam bergeser 1/4 hari (6 jam) pada tahun syamsiyah dan 12 jam (1/2 hari) pada tahun kamariah. Untuk mengatasi hal ini, maka setiap empat tahun ada tahun kabisat yang memperoleh "tambahan 3 x 1/4 hari" dan tiga tahun lainnya sehingga panjang tahun kabisat menjadi 365 1/4 + 3/4 = 366 hari. Setiap 30 tahun, ada 11 tahun kabisat hijriah yang lamanya 355 hari. Demikian pula halnya dengan bulan Ramadan dan Syakban (bulan kamariah sebelum Ramadhan), yang mempunyai dua kemungkinan, yaitu 29 atau 30 hari. Hisab 'urfi melihat data statistik tentang lamanya kedua bulan ini. Dari kecenderungan, kebiasaan, dan panjangnya bulan ini, bisa diduga bahwa pada suatu tahun, bulan Syakban dan Ramadan akan berlangsung 29 atau 30 hari. Tentu saja perkiraan ini sangat kasar karena kemunculan hilal sebetulnya merupakan peristiwa yang alamiah. Sementara itu, panjangnya bulan bisa dipengaruhi oleh pembulatan, yang notabene dilakukan oleh manusia. Hisab dengan metode "klasik" ini, yang berdasarkan kitab kuning, juga cukup rawan terhadap kesalahan perhitungan. Pertama, karena hampir semua perhitungannya menggunakan cara manual, yaitu dengan tangan, paling tinggi menggunakan kalkulator. Kedua, tabel yang digunakan untuk perhitungan maupun koreksi sudah berusia ratusan tahun, yang disusun ketika kemampuan manusia untuk mengukur maupun menghitung belum setinggi sekarang. |