Bagaimanakah cara untuk meyakinkan bahwa seseorang itu benar-benar melihat dan bukan membayangkan adanya hilal? PDF Cetak E-mail

 Tidak ada satu cara pun untuk menunjukkan bukti bahwa pikiran seseorang tidak sedang terpengaruh ketika ia me­lihat hilal, juga untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar melihat hilal secara jasmaniah, bukan secara kejiwaan. Yang bisa dilakukan adalah menunjukkan bukti bahwa secara jasmaniah hilal itu benar-benar ada. Prinsipnya sederhana: semua benda yang dapat dilihat pasti dapat direkam atau difoto. Peralatan kamera biasa maupun kamera video mutakhir dapat merekam benda apa saja, bahkan dalam cahaya yang sangat minim. Bahkan, kamera video seder­hana --yang bisa dipakai oleh siapa saja setelah belajar beberapa menit-- dapat merekam benda yang hanya disinari sebatang lilin, tanpa perlu bantuan cahaya kilat (blitz) atau lampu sorot.

Jadi, jika ada bendanya dan ada pula cahayanya, Insya Allah akan ada rekamannya. Jika hilal memang tidak ada, maka tentu tidak ada cahayanya, tidak akan ada pula gambaran (citranya), tidak akan ada pula rekamannya pada film atau pada pita video. Untuk lebih meyakinkan pelaksanaan rukyat ini, maka rukyat yang direkam akan sangat meyakinkan semua pihak. Yang terpenting, meyakinkan diri pelaksana atau saksi rukyat itu.

Hasil rekaman ini bisa disaksikan oleh siapa pun untuk meyakinkan bahwa yang dilihat itu memang hilal. Pernah dalam suatu kesempatan rukyat, sekilas terlihat bentuk bulan sabit putih dengan "tanduk" menghadap ke atas, di tengah-tengah awan hitam tebal. Namun, ketika re­kamannya diputar ulang lalu diperlambat (slow motion), terlihat bahwa citra putih yang disangka hilal itu lambat laun buyar karena memang itu hanya celah sempit di antara tebalnya awan hitam. Dengan adanya rekaman ini, kesaksian rukyat bisa diperluas pada lingkungan pengamat yang lebih luas. Rekaman hasil rukyat akan menghilangkan kekeliruan manusiawi dari segi kejiwaan, bebas dari kekeliruan subjektif. Rekaman rukyat ini tidak bergantung pada apa yang diketahui, apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, dan apa yang diinginkan oleh pelaksanaan atau saksi rukyat. Jika hilal memang ada, maka ia akan terekam dan terlihat jelas, demikian pula sebaliknya. Tentu saja, peralatan rekamannya harus meyakinkan sehingga terbebas dari semua kesalahan dan kekeliruan objektif.